Monday, 3 November 2014

Fat Bubble #TheLeisurePlace #JakartaReposeProject #JktOffDuty






 indoor
  outdoor

Fat Bubble Dessert House adalah sebuah kedai dessert yang terletak di Tebet, Jakarta Selatan, walaupun terbilang baru tempat ini selalu ramai pengunjung, “mungkin karna sekarang lagi jadi salah satu fenomena ya makanan dessert kan sekarang lagi booming banget” ujar salah satu pemegang saham di Fat Bubble, Java. Bisnis keluarga ini dapat dikatakan sangat sukses karena sekarang Fat Bubble sudah membuka 3 gerai, dengan gerai pertama di PIK, Jakarta Utara, disusul gerai kedua yaitu di daerah Tebet, dan gerai ketiga yang baru dibuka di daerah Bintaro. Alasan mengapa Fat Bubble selalu ramai pengunjung adalah karena pihak Fat Bubble selalu memilih tempat yang strategis, ditambah lagi untuk di daerah Tebet belum ada tempat kedai dessert yang memberikan tempat yang nyaman dan cozy untuk para pengunjung setianya, “value yang mau disampaikan adalah harga yang kita tawarkan lebih murah dari competitor tapi gak kalah enak, pilihan menu lebih variatif, kita juga adain makanan berat, dan kita juga menyediakan tempat dan suasana yang berbeda” jelas Java. Dengan tempat yang sangat strategis dan nyaman, Fat Bubble juga mampu memberikan rasa yang tidak kalah saing dengan kompetitor, tentunya dengan harga yang relative murah dan pas dikantong target marketnya. Walaupun tempat di design untuk para remaja berkumpul dan menghabiskan waktu luang disana, “realitanya yang dateng umur 30 keatas kebanyakan, jadi bisa dibilang kita tuh salah target pasar, tapi kalo diliat dari omset itu lebih dari yang kita harapkan, jadi bisa dibilang ini kesalahan yang membawa keberuntungan, karena ternyata umur segitu juga masih cari tempat yang full color dan cozy jadi kita gak ganti konsep sama sekali” jelas Java, maka dari itu banyak pula kalangan dewasa atau pekerja yang berkunjung ke Fat Bubble, entah itu untuk berkumpul dengan teman-temannya atau pun mengadakan lunch meeting, “selain suka kongko-kongko sama temen-temen juga pernah meeting soal kerjaan disana, soalnya di lantai 2 bisa dibilang tempatnya kondusif” ujar salah satu pengunjung setia Fat Bubble, Ikhsan.

 Java, Co-owner Fat Bubble
Java bersama pemegang saham Fat Bubble lainnya



            Selain menyediakan tempat yang full color dan cozy, Fat Bubble juga mempunyai jam operasional yang fleksibel yaitu dari pukul 10.00 / 11.00 – 23.00 dan pilihan menu yang variatif, dessert mangkok ala Taiwan, minuman bubble tea, light bites seperti mini martabak, sampai main course seperti fish and chips dan spaghetti, “yang gak nyangkanya tuh mba menu makanan berat malah suka sampe keabisan stok karna pas siang banyak pengunjung yang mesen”cerita Java. Pihak Fat Bubble juga selalu menjaga kondisi tempat agar selalu bersih, tujuannya adalah agar pengunjung betah untuk berlama-lama menghabiskan waktu luang disana. Selain iu untuk mengikuti perkembangan zaman, pihak Fat Bubble juga menyediakan fasilitas wifi yang dapat digunakan secara gratis oleh para pengunjungnya, maka dari itu selain untuk bersantai dan berkumpul, Fat Bubble juga sering digunakan untuk kerja kelompok atau meeting.

 Ikhsan,Pengunjung Setia Fat Bubble
Ikhsan bersama teman-temannya


            Terlihat jelas bahwa value yang ingin disampaikan oleh pihak Fat Bubble tersampaikan dengan baik oleh pengunjung, sebagai kedai dessert yang murah dengan rasa yang enak, sekaligus dapat menawarkan tempat yang nyaman, “harga  sama rasa cukup worth it, kebersihannya juga oke” ujar Ikhsan saat ditanya pendapat tentang Fat Bubble yang dapat dikatakan pula “low price with good quality”. Tentunya masih ada beberapa kekurangan yang masih harus diperbaiki oleh pihak Fat Bubble seperti kata Ikhsan yaitu, “kadang-kadang waktu service kalo kita order suka lama, kalo keramahan so-so lah ya, tapi kalo rasa minumannya sendiri gak kalah sama chattime atau hong tang”, namun seiring berjalannya waktu dan dengan complain yang diterima pihak Fat Bubble berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki layanannya dengan cara menggunakan HT untuk pelayan berkomunikasi agar tidak terjadi miscommunication dan keterlambatan pengantaran order yang fatal, “kalo soal pelayanan awalnya suka ada complain karna pesanan nyampenya lama, ya mungkin karna baru juga jadi masih harus banyak training lagi, tapi seiring berjalannya waktu kita mulai pake teknologi kaya HT biar gak ada miscommunication lagi” ujar Java menjelaskan.

Saturday, 25 October 2014

Taman Jogging #TheLeisurePlace #JakartaReposeProject #JktOffDuty




            Tempat leisure kedua yang menjadi tempat warga Jakarta menghabiskan waktu luang adalah Taman Jogging, sebuah fasilitas yang diberikan oleh salah satu developer besar di daerah Jakarta Utara, Summarecon. Taman ini diresmikan pada tahun 2008 dan dibuka untuk umum. Tujuan utama dari dibukanya Taman Jogging ini adalah untuk warga Jakarta, khususnya di bilangan Kelapa Gading untuk menghabiskan waktu luang mereka berolahraga ringan disana, dengan berbagai macam fasilitas yang sudah disediakan disana, seperti jogging track, refleksi sakit, refleksi ringan dan alat olahraga sederhana. Selain itu uniknya dari taman ini adalah dibuat pula fasilitas untuk keluarga berekreasi atau sekedar jalan-jalan sore, seperti disediakan area bermain anak, gazebo, bangku taman, plaza, dan pedestrian. Di Taman Jogging juga dapat dilihat banyak sekali aktivitas lain yang dilakukan oleh masyarakat sekitar seperti perkumpulan sebuah komunitas, senam pagi, piknik kecil, sampai menjadi tempat pasangan muda ‘berduaan’, “iya disini tuh emang suka banyak juga yang berduaan, pacaran, ya kalo masih dibatas wajar masi gapapa, tapi kalo udah mulai bikin resah ya pasti saya tegur” ujar Pak Hartono, salah satu anggota keamanan disana. Mungkin karena jam operasional dari Taman Jogging sendiri juga sampai malam (05.30 – 21.00), jadi saat menjelang sore banyak sekali yang menggunakan Taman Jogging sebagai tempat untuk pasangan muda ‘berduaan’.

 
 Taman Jogging in the evening.


            Taman jogging dibuat tidak seperti taman kebanyakan lainnya di Jakarta, seperti Taman Menteng atau Taman Suropati, taman ini sendiri lebih ketat keamanannya, tujuannya adalah untuk membuat pengunjung yang sedang menghabiskan waktu luang disana nyaman saat berada di Taman Jogging, seperti contohnya selalu ada petugas keamanan yang menjaga gerbang depan masuk taman dan gerbang keluar taman, lalu pengamen dan pengemis pun jarang terlihat di taman, begitu juga dengan pedagang kaki lima atau pedagang makanan, “disini gak boleh sembarangan orang yang jual makanan, misalnya kaya grobak nasi goreng dan semacamnya itu gak boleh masuk sini, gitu juga pengemis dan yang lain” jelas Pak Hartono yang ditemui saat shift kerjanya sudah selesai. Tetapi ternyata ini menjadi salah satu kekurangan bagi sebagian pengunjungnya, “disini kalo buat cari makanan agak susah juga sih, cuman ada satu dan itu biasanya cuman buat beli minum doang, kalo bisa ditambah lagi gitu jadi kan kalo buat kopdar-kopdar kaya gini gak usah bawa makanan dari luar lagi” ujar salah satu pengunjung setia Taman Jogging, Rama. Rama sendiri mengaku selain suka olahraga ke Taman Jogging, ia juga suka menghabiskan waktu luangnya disana untuk berkumpul dengan teman-teman satu komunitasnya. Menurutnya kekurangan dari Taman Jogging, selain sulitnya mencari jajanan atau makanan, adalah lahan parkir untuk kendaraan roda dua yang tempatnya kurang memadai dan petunjuk jalan masuk taman yang kurang jelas, “kalo bisa penunjuk jalan masuknya diperjelas lagi, soalnya pas pertama kali kesini bingung pintu masuknya dimana, terus akses buat parkirnya juga agak susah dan gelap banget kalo udah malem, kan takutnya rawan” jelas Rama. Masalah penerangan yang kurang di area parkir ini pun sudah sering di dengar oleh Pak Hartono dari para pengunjungnya, khususnya dari pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua, dan Pak Hartono pun sudah mengakatannya kepada bagian pengelola, tetapi sayangnya prosesnya terlalu panjang karena pihak pengelola pun harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pihak atas untuk mengganti atau mengurus penerangan di lahan parkir.


Taman Jogging in the morning.


            Value lain yang ingin disampaikan oleh pihak Taman Jogging adalah taman ini juga berfungsi sebagai paru-paru kawasan Kelapa Gading dan daerah resapan, dengan ditanam banyaknya tumbuhan dan pepohonan, juga terdapatnya titik penyerapan dan titik biopori. Taman Jogging sendiri sangat dijaga kebersihannya, tetapi sayangnya masih ada beberapa pengunjung yang masih belum sadar akan kebersihan, “ya gitu masih aja ada yang buang sampah sembarangan, tapi pihak Taman Jogging sendiri punya petugas kebersihan yang bakal ngebersihin setiap harinya sebelum taman ditutup” ujar Pak Hartono. Nilai ini pun dirasakan oleh pengunjungnya, “disini tuh banyak pohonnya, jadi ya ngitung-ngitung hirup udara baguslah, udara seger, di kota Jakarta kaya gini tau sendiri banyak polusi” jawab Rama, pengunjung setia Taman Jogging yang sedang menghabiskan waktu luangnya bersama teman-teman komunitas pecinta alam.

Tuesday, 21 October 2014

Portico Terrace Bistro #TheLeisurePlace #JakartaReposeProject #JktOffDuty



            After we talked about leisure profile from my 7 amazing and interesting informants, also about how they define leisure and how they spent it. Now I want to talk about “the leisure place” that people dying to go with some reasons to spend their leisure time there. I already did an interview in 3 places with the management and also with the visitor to finding what factors that make those 3 places stand out and is there any gap between what those place wants to deliver with what the visitor feel about those leisure place. So let’s begin #chapter1 for leisure place…


Portico Terrace Bistro, Senayan City at night

Portico at noon





            Portico Terrace and Bistro, berada di bilangan Jakarta Selatan tepatnya di sebuah mall premium yaitu Senayan City adalah sebuah restoran yang menawarkan kesan “homey and friendly” untuk para pengunjungnya. Portico sendiri diambil dari bahasa Italy yang berarti “teras”, tempat yang Portico sediakan ada 3 jenis, bar table, indoor, dan outdoor. Tempat ini banyak digandrungi oleh remaja sampai dewasa berkelas sosial A, sesuai juga dengan target pengunjung dari Portico sendiri yang menargetkan kelas sosial menengah keatas, tetapi tidak menutup kemungkinan pula untuk kelas sosial menengah untuk datang ke tempat tersebut, “tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk kelas menengah pun kalo dia datang ke Portico tetap kita layani dengan baik” jelas Paris seorang senior waiter di Portico. Pelayanan yang diberikan oleh pihak Portico pun tidak dibedakan, yang paling dipegang teguh oleh manajemen adalah “how they treat their customer well” karena dengan konsep yang ditawarkan oleh Portico sendiri adalah homey and friendly, “konsep yang mau ditawarkan Portico sendiri adalah ingin membuat semua tamu yang datang itu ngerasa nyaman dan ngerasa ini tuh rumah mereka sendiri”, ujar Paris.

Paris, Senior Waiter Portico


Portico juga memberikan beberapa hiburan tiap minggunya untuk menarik new customer dan meng-keep current customer, yaitu berupa Live Music, yang musiknya disesuaikan dengan telinga para pengunjungnya. Hal inipun diakui sebagai salah satu hal menjadi keunggulan Portico dimata salah satu pengunjung setianya, Sausan, wanita yang sering sekali menghabiskan waktu luangnya di Portico mengaku hiburan setiap malam minggu di Portico menjadi daya tarik sendiri baginya dan teman-temannya untuk selalu kembali lagi kesana, “aku yang penting ada musiknya, dan musiknya yang pasti harus yan chill terus juga ada outdoor-nya dan Portico udah ngasih itu, aku sendiri paling sering ke Portico ya pas malam minggu karna ada live music-nya juga” ujar Sausan. Paris juga mengakui dengan adanya hiburan ditiap malam minggunya, itupun menjadi traffic yang paling ramai di Portico, banyak pengunjung yang datang saat hari Sabtu khususnya. ditambah pelayanannya yang baik dan ramah.

 Sausan, salah satu pengunjung setia Portico
Sausan bersama teman-temannya


            Mungkin banyak orang bertanya apa saja kelebihan yang Portico tawarkan selain service dan hiburan yang diberikan, lalu apa saja hal yang dilakukan Portico untuk dapat bertahan selama kurang lebih 5 tahun dengan kompetitor-kompetitor baru dengan konsep yang hampi menyerupai Portico. Jawabannya adalah selain memberikan sevice diatas rata-rata, Portico juga mempunyai tempat yang strategis untuk target market-nya, dan ia bekerja sama dengan salah satu club yang bisa dibilang terkenal dikalangan target market-nya untuk menghabiskan waktu luang yaitu Domain, Paris bercerita pengunjung di Portico sering sekali menghabiskan waktu luang disana bersama teman-temannya lalu melanjutkan malam mereka di Domain, selain itu Portico dan Domain sering pula membuat sebuah promo kerjasama yang dapat meng-attract customer untuk selalu kembali datang ke Portico. Selain itu Portico juga sering diapakai untuk berbagai macam kegiatan waktu luang, selain makan-makan dan ngumpul-ngumpul, Portico juga sering digunakan untuk family gathering, arisan, lunch meeting, company gathering, birthday party sampai wedding party pun Portico siap untuk menyediakan venue-nya.


            Gap yang masih ditemukan di Portico antara manajemen dan visitor tidak terlalu besar, karena value yang ingin disampaikan Portico pun tersampaikan dengan baik, salah satu pengunjung setia Portico pun mengakui bahwa service yang diberikan oleh Portico pun sudah bagus, begitupun dengan taste dari makanan dan minuman yang disediakan disana. Ia pun selalu menyempatkan diri setiap minggunya untuk kembali lagi ke Portico karena ia sudah merasa Portico sebagai “second home”-nya, hal ini menunjukan bahwa value dan konsep yang ingin ditawarkan Portico tersampaikan dengan baik kepada customer-nya. Tetapi ada beberapa hal kecil seperti masalah menu yang tidak pernah berubah dan kadang speed pengantaran yang masih belum konsisten jika restoran sedang ramai pengunjung, “menunya masih itu-itu aja sih dari pertama kali aku nongkrong sampe sekarang tapi karna tempatnya udah pewe dan asik jadi yaudah gak terlalu jadi masalah juga” cerita Sausan. So overall Portico sudah berhasil men-deliver value dan konsep yang ditawarkan hanya ada beberapa kekurangan yang dari manajemen Portico pun selalu berusaha untuk perbaiki.

Monday, 29 September 2014

#JakartaReposeProject #JktOffDuty (chapter 7)



Ella, begitulah panggilannya atau di dalam pekerjaannya orang menyebutnya ‘mba Ella’, gadis remaja yang baru berusia 19 tahun ini sudah mempunyai pengalaman kerja di Jakarta yang cukup lama dan ahli di bidangnya. Seorang asisten rumah tangga di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara juga bercerita sempat bekerja pula di daerah Jakarta Selatan. Di umur yang masih sangat belia ini Ella sudah pintar dalam urusan rumah tangga, masak, serta mengurus anak. Asli dari Serang membuat adanya perbedaan tersendiri tentang bagaimana ia menghabiskan waktu luang saat di kampung halamannya dan di Jakarta.



Saat di kampung halaman, Ella sangat memanfaatkan waktu luang bersama teman-teman dan keluarga, itu adalah salah satu caranya untuk refreshing dari pekerjaannya di Jakarta, jadi baginya waktu luang yang ia dapatkan di kampung sangat berharga, “jangan nyia-nyiain kalo punya waktu luang harus pergunakan dengan sebaik mungkin” ujar Ella. Di kampung halaman Ella paling sering menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya, hampir setiap hari ia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya, “tapi biasanya cara bagi waktunya pas pagi sampe siang saya sama keluarga saya terus sore sampe malem baru pergi sama temen-temen” jelas Ella. Tempat favoritnya saat di kampung halaman adalah pantai dan tempat pemandian air panas, hanya dengan bermodal motor ia dapat pergi kesana secara cuma-cuma, karena tidak ada pungutan biaya.


Jika sedang bekerja di Jakarta, Ella bercerita juga suka mempunyai waktu kosong dimana pekerjaan wajibnya sudah selesai, tetapi ia lebih memilih memanfaatkan waktu itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Untungnya ibu dan bapak di rumah yang ia tinggali memberikan kelonggaran setiap bulannya, ia diberikan izin untuk pergi jalan-jalan menghabiskan waktu luangnya diluar. Saat ditanya kemana destinasinya saat di Jakarta, Ella memberi tahu beberapa tempat seperti monas, pasar malam, itc, dan taman. Ada perbedaan saat ia bekerja di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara, saat di Jakarta Selatan setiap sorenya ia mempunyai kesempatan untuk menikmati waktu luang ke taman. Tetapi semenjak bekerja di Jakarta Utara tempat hiburannya adalah pasar malam dan itc, “males juga sih gak ada yang sreg sama pasar malem disini, saya lebih suka pasar malem di kampung lebih luas dan ada mainannya juga, kalo disini sempit dan sumpek” ujar Ella, "lagian yang bikin rame pasar malem disini bukan pembelinya tapi pengunjungnya yang mau pacaran", tambah Ella menjelaskan. Jadi saat ditanya tempat favoritnya saat tinggal di Jakarta Utara adalah itc, karena menurutnya disana ia dapat berbelanja baju yang murah dan bagus. Momen yang tak terlupakan selama ia menghabiskan waktu luangnya di Jakarta adalah saat ia pergi ke monas bersama teman-temannya, “paling gak bisa dilupain itu pas ke monas, menurut saya itu pengalaman yang paling seru banget, kumpul sama temen-temen lama yang gak ketemu terus makan bareng” cerita Ella.

“ya suka karena keliatan mewah, tapi kalo kesana pas sama bos” ujar Ella saat ditanya tanggapannya tentang mall Kelapa Gading. Ella megakui lebih suka menghabiskan waktu luang di alam terbuka daripada harus ke tempat-tempat indoor seperti mall. Karena di tempat terbuka ia lebih sering mendapatkan pengalaman yang seru dan tidak terlupaka, seperti saat ia pergi berenang bersama teman-temannya di pemandian air panas dekat kampung halamannya. Ella juga menceritakan ia tidak ingin ada tempat yang sama seperti di kampung halamannya untuk di Jakarta karena itu akan memberikan memori dengan orang-orang tersayangnya di kampung, “sedih kalo ada tempat di Jakarta yang kaya di kampung nanti saya malah jadi sedih kepikiran temen-temen saya disana” ujar Ella, yang ia inginkan ada di Jakarta adalah tempat yang sejuk banyak pepohonan agar ia dapat menikmati waktu luang dengan nyaman di alam terbuka, “perlu sih ya disini ada taman biar kalo sore bisa kerja sambil main ke taman”.


Hal yang membuat Ella tidak dapat menikmati waktu luang adalah kemacetan, jika jarak yang harus ditempuh jauh sekalipun tidak akan masalah jika tidak macet, “kalo disini kan deket atau jauh tetep aja macet, tapi kalo di kampung mau tempatnya jauh juga enaknya gak macet” ujar Ella. Walaupun kegiatan di Jakarta lumayan menyita waktunya, ia tetap sadar akan kegunaan internet di zaman sekarang, dengan smartphone yang ia dapatkan dari bapak tempat ia tinggal di Jakarta, ia gunakan sebagai alat komunikasi virtual dengan teman-temannya seperti lewat facebook.


Pertemuan di siang itu ditutup dengan pertanyaan terakhir yang diajukan kepada mba Ella, yaitu bagaimana ia mengartikan waktu luang untuk dirinya, “waktu luang saat di waktu kerja adalah waktu saya untuk istirahat, dan waktu luang saat saya di kampung adalah waktu untuk kumpul-kumpul dengan temen-temen dan menjaga tali silahturahmi”, lalu disimpulkan menjadi tiga kata “keluarga, temen, istirahat”.