indoor
outdoor
Fat Bubble Dessert House adalah sebuah kedai dessert yang terletak di
Tebet, Jakarta Selatan, walaupun terbilang baru tempat ini selalu ramai
pengunjung, “mungkin karna sekarang lagi
jadi salah satu fenomena ya makanan dessert kan sekarang lagi booming banget”
ujar salah satu pemegang saham di Fat Bubble, Java. Bisnis keluarga ini dapat
dikatakan sangat sukses karena sekarang Fat Bubble sudah membuka 3 gerai,
dengan gerai pertama di PIK, Jakarta Utara, disusul gerai kedua yaitu di daerah
Tebet, dan gerai ketiga yang baru dibuka di daerah Bintaro. Alasan mengapa Fat
Bubble selalu ramai pengunjung adalah karena pihak Fat Bubble selalu memilih
tempat yang strategis, ditambah lagi untuk di daerah Tebet belum ada tempat
kedai dessert yang memberikan tempat yang nyaman dan cozy untuk para pengunjung setianya, “value yang mau disampaikan adalah harga yang kita tawarkan lebih murah
dari competitor tapi gak kalah enak, pilihan menu lebih variatif, kita juga
adain makanan berat, dan kita juga menyediakan tempat dan suasana yang berbeda”
jelas Java. Dengan tempat yang sangat strategis dan nyaman, Fat Bubble juga
mampu memberikan rasa yang tidak kalah saing dengan kompetitor, tentunya dengan
harga yang relative murah dan pas dikantong target marketnya. Walaupun tempat di
design untuk para remaja berkumpul
dan menghabiskan waktu luang disana, “realitanya
yang dateng umur 30 keatas kebanyakan, jadi bisa dibilang kita tuh salah target
pasar, tapi kalo diliat dari omset itu lebih dari yang kita harapkan, jadi bisa
dibilang ini kesalahan yang membawa keberuntungan, karena ternyata umur segitu
juga masih cari tempat yang full color dan cozy jadi kita gak ganti konsep sama
sekali” jelas Java, maka dari itu banyak pula kalangan dewasa atau pekerja
yang berkunjung ke Fat Bubble, entah itu untuk berkumpul dengan teman-temannya
atau pun mengadakan lunch meeting,
“selain suka kongko-kongko sama temen-temen juga pernah meeting soal kerjaan
disana, soalnya di lantai 2 bisa dibilang tempatnya kondusif” ujar salah
satu pengunjung setia Fat Bubble, Ikhsan.
Java, Co-owner Fat Bubble
Java bersama pemegang saham Fat Bubble lainnya
Selain menyediakan
tempat yang full color dan cozy, Fat Bubble juga mempunyai jam
operasional yang fleksibel yaitu dari pukul 10.00 / 11.00 – 23.00 dan pilihan
menu yang variatif, dessert mangkok ala Taiwan, minuman bubble tea, light bites
seperti mini martabak, sampai main course seperti fish and chips dan spaghetti,
“yang gak nyangkanya tuh mba menu makanan
berat malah suka sampe keabisan stok karna pas siang banyak pengunjung yang
mesen”cerita Java. Pihak Fat Bubble juga selalu menjaga kondisi tempat agar
selalu bersih, tujuannya adalah agar pengunjung betah untuk berlama-lama
menghabiskan waktu luang disana. Selain iu untuk mengikuti perkembangan zaman,
pihak Fat Bubble juga menyediakan fasilitas wifi yang dapat digunakan secara gratis
oleh para pengunjungnya, maka dari itu selain untuk bersantai dan berkumpul,
Fat Bubble juga sering digunakan untuk kerja kelompok atau meeting.
Ikhsan,Pengunjung Setia Fat Bubble
Ikhsan bersama teman-temannya
Terlihat jelas bahwa
value yang ingin disampaikan oleh pihak Fat Bubble tersampaikan dengan baik
oleh pengunjung, sebagai kedai dessert yang murah dengan rasa yang enak,
sekaligus dapat menawarkan tempat yang nyaman, “harga sama rasa cukup worth it,
kebersihannya juga oke” ujar Ikhsan saat ditanya pendapat tentang Fat
Bubble yang dapat dikatakan pula “low
price with good quality”. Tentunya masih ada beberapa kekurangan yang masih
harus diperbaiki oleh pihak Fat Bubble seperti kata Ikhsan yaitu, “kadang-kadang waktu service kalo kita order
suka lama, kalo keramahan so-so lah ya, tapi kalo rasa minumannya sendiri gak
kalah sama chattime atau hong tang”, namun seiring berjalannya waktu dan
dengan complain yang diterima pihak Fat Bubble berusaha sebaik mungkin untuk
memperbaiki layanannya dengan cara menggunakan HT untuk pelayan berkomunikasi
agar tidak terjadi miscommunication dan
keterlambatan pengantaran order yang fatal, “kalo
soal pelayanan awalnya suka ada complain karna pesanan nyampenya lama, ya
mungkin karna baru juga jadi masih harus banyak training lagi, tapi seiring
berjalannya waktu kita mulai pake teknologi kaya HT biar gak ada
miscommunication lagi” ujar Java menjelaskan.